Rahma’s Story-Gak apa, ini hari terakhir


Gak apa, ini hari terakhir
Pekanbaru, kamis 5 juni 2014
Aku melangkah menuju kelas setelah mendengar bel sudah berbunyi. Tak cukup khawatir untuk terburu karena pelajaran terakhir adalah pelajaran bahasa Indonesia. Bukan factor aku adalah orang Indonesia jadi gampang saja mempelajarinya. Namun menurut ku lebih baik tidak masuk kelas jika dikelas tidak dihargai. Aku bersama teman-teman ku yang baru saja ke kantin akhirnya sampai dikelas tercinta. Syukurnya buk Har belum memasuki kelas. Dia memang selalu terlambat masuk kelas. Kami pun melanjutkan hal yang digosipkan dikantin tadi dikelas. Tiba-tiba tanpa diinginkan buk Har memasuki kelas. Kelas yang ribut tadi berubah menjadi senyap dan seluruh anak kelas kembali ke tempat duduknya masing-masing. Terkecuali aku kebingungan. Yang tempat duduk ku sudah diduduki oleh seorang lelaki sekaligus kawan baikku yang bernama Kus. Aku sudah beberapa kali mengusirnya agar pergi dari tempat dudukku. Rasanya kesal sekali. Aku sangat cinta dengan posisi sekaligus bangku ku yang sangat strategis itu.
“usir cantik hus hus sanaa!” usir kus terhadapku. Dia sudah terhipnotis akan usir usiran syahrini
“udah numpang ngusir lagi”, balas ku kesal
“kau duduk aja dikursi aku”, sambil menunjuk kursinya

Saat kulihat kursinya sudah di duduki oleh kawan kami yang akrab dipanggil nyet. Seketika buk Har menegurku.

“kamu dimana kursinya duduk tempat masing masing”

Dengan sedikit kurang iklas akhirnya aku duduk di bangku enyet yang kebetulan dekat dengan guru.

“oke, dah dekat ujian ni ada lagi materi yang belum jelas”, ucap buk Har sambil duduk dengan suara pelan malasnya yang selalu mengundang kantuk.

Kebetulan Feb duduk disebelah ku dan di depan feb ada sun. Sun mengajak Feb berbicara dan kedengarannya sepertinya menarik. Kebetulan bangku Nyet yang sedang ku duduki jika kepala ku lurus maka akan tertutup oleh orang didepanku yang bernama Intan. Tapi jika kepala ku dimerengkan kekanan maka muka aku akan nampak jelas oleh buk har. Jadi aku memerengkan kepala kekanan agar lebih memperhatikannya bicara. Sun berbicara sambil memerengkan badan ke arah feb yang secara tak langsung juga menghadap ku.

“rahma becerita kamu sama laki-laki ni” tegur buk har

Secara reflek aku terkejut dan tentu aku membela diri karena faktanya aku tidak berbicara pada sun.

“gak ada saya bicara sama dia buk, saya diam diam aja”, balas ku sambil sedikit memberontak
“alah, dari kemarin lagi kamu meribut aja kerjanya”, jawab ibu sambil mengeluarkan tampang menyebalkannya.

Oke kali ini aku cukup fokus kepala lurus menghadap depan meski tidak nampak.

“kayaknya ibuk ni gerogi kalo dia bicara aku lihat haha” sambil berbisik dengan orang sebelah.

Aku diam saja dan lurus menghadap kedepan. Terkadang sambil mencoret-coret halaman belakang buku tulis yang ternyata itu punya enyet. Tak lama Feb – yang duduk disebelahku membentangkan tangannya dan memberi isyarat kepadaku. Namun aku menghiraukannya.

“Rahma.. bicara jugak kamu lagi sama laki-laki sebelah kamu sekarang” tegur buk Har untuk ke tiga kalinya.
“gak ada saya bicara buk”, sambil mengangkat kepalaku yang dari tadi berusaha tunduk dan anggap tak ada yang mengajakku bicara.

Buk Har seperti tidak mempercayai ku. Oke jika begini cara bermainnya aku akan betul betul seperti patung. Kus – duduk dibelakang Feb terus menggodaku dan mengatakan

“ma, aku meribut ndak kenak marah do. Tengoklah aku haa. Is cuek”

Syukurnya aku tak tergoda oleh itu. Kus memang tampaknya mencari masalah. Tak lama aku merasa bosan jika hanya diam begini. Hanya kaki ku yang bisa banyak bergerak. Maklum saja aku termasuk orang yang tidak bisa diam saja. Apalagi mendengarkan sesuatu yang membosankan.

“tolong masukkan hp aku dalam buku ni” isyaratku kepada kus, sambil menunjukkan buku.

“kamu jugak lagi rahma, kali ni sama kus pulak”, panggil buk Har.

Dan kali ini aku tidak akan menjawab. Percuma nama aku sudah jelek dimata buk Har. Kemudian kus memberikan buku yang berisi hp ku. Kali ini aku akan mendengarkan musik. Jauh lebih indah jika fokus terhadap benda ini. Tanpa ada yang mengganggu.

Sampai akhirnya jam berakhir. Teman-temanku menghampiriku sambil berkata.

“sabar ma, gak apa ini hari terakhir belajar sama ibuk ni”