Malam ini mata ku tak ingin tidur. Tak ada sedikit pun kantuk
yang menghampiriku. Aku sedikit resah malam itu. Kebetulan aku dan Angah –
kakak ku yang ke 2 tidur dikamar bawah agar tidak sulit untuk bangun sahur. Aku
hanya memainkan ponsel ku, sambil mendengarkan lagu. Tak lama aku makin merasa
ngantuk. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dan pergi ke dapur. Yang
kulakukan hanya melamun diam aku bingung ingin berbuat apa. Disaat yang bersamaan
baterai ponsel ku melemah. Dan hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 02.49.
Aku segera memasak air untuk sahur. Seperti biasa ayah minum
kopi, mama minum teh, angah cappuccino dan aku susu Hilo – biar tinggi. Hingga
airnya aku segera mengambil teh didalam lemari. Terlihatlah ada 1 kotak yang
berisi banyak sachet. Sachet itu ternyata luwak white koffie. Minuman yang
sering menjadi sponsor di beberapa acara televisi.
Aku sudah lama ingin mencoba untuk meminumnya. Menurut
iklannya rasanya enak dan menggoda. Akhirnya aku tidak jadi membuat susu. Aku
ambil sachet itu dan memasukkannya ke dalam gelas. Setelah itu aku kembali
mempersiapkan makanan untuk sahur.
Setelah semuanya siap, aku segera membangunkan angah, mama,
dan ayah. Ketika sahur aku sangat senang memamerkan minuman ku yang lain dari
biasanya. Mama sengaja membelinya dengan tujuan untuk mencoba rasanya saja. “Nyobak
aja siapa tau enak” begitu katanya. Setelah ku perhatikan gelas kopi ku, baru
ku sadari bahwa yang putih itu hanya kemasan dan bubuknya saja. Setelah jadi
warnanya kecokelatan.
Aku merasa tertipu saat itu, kopi yang amat membuat ku
penasaran tidak sesuai dengan yang ku bayangkan. Logikanya sih mana ada taik yang warnanya putih? Taik luwak pulak. Taik cicak
baru putih jadi kalo seandainya itu kopi berwarna putih berarti itu adalah
Cicak white Koffie kopi olahan dari taik cicak. Gitu. eh btw taik cicak
warnanya putih? Ah au ah.
Hingga pagi aku tidak bisa tidur, aku bersantai santai sambil
menonton tv di pagi hari. Aku lupa saat itu aku nonton apa.
“sukma ikut jemput kak utih gak? Ansur-ansurlah bersihkan
rumah. Kamar mandi sukma kan janji mau bersihkan?”, sebut angah sambil memegang
sapu.
“iya ngah”, balas ku singkat padat dan gak jelas dengan
menunjukkan muka termalas.
Aku segera menggosok kamar mandi hingga bersih. Seusainya
badan serasa pegal. Lelah anak gadis pagi-pagi gosok kamar mandi. Kebetulan aku
belum mandi yaudah gak sekalian mandi. Angah mau mandi duluan. Sebenarnya ini
bagian gak penting sih.
Langsung deh otw bandara. Baterai ponsel ku lowbat, karena berbagai
alasan. Jelasnya susah pas charging nya, kini dia tak seperti biasa dia
berubah. Harus ada cara khusus biar dia mau terisi baterai. Semalaman charging
tapi gak penuh-penuh itu sakitnya disini *nunjukin hati*. Selama diperjalanan
aku ketiduran sambil megang ponsel dan powerbank. Tak lama aku tersadar sudah
sampai ditujuan. Ketika kembali melihat ponsel ternyata baterainya terisi 12%.
Perut ku terasa tidak enak. Bayangin kentut saja gak bisa.
Hari ini memang tak diinginkan. Dan baru kusadari ini mungkin akibat dari kopi
putih luwak tadi. Perut aku sensitive banget kayak pantat bayi kalo salah masuk
sikit ya berulah dianya. Aku udah gak nafsu ngapa-ngapain lagi. Diruang tunggu
aku hanya bisa bbm makpir sekaligus curhat apa yang kuderita kali ini. Ah sial
sekali rasanya.
Kak utih – kakak ku yang ke tiga lama banget sampainya,
pikirku sambil memandang roti boy yang dimakan oleh anak cina yang terus kesana
kemari tak ada hentinya.
“iyunk bilang kak utih ada kejutan buat kita berdua dek,
kira-kira apa ya? Angah kayaknya kalo nggak jersey Germany, komik conan, buku
alex ferguson, atau apa ya?”, tiba-tiba angah berbicara dan memberhentikan
lamunanku.
“kalo sukma apa ya? Sukma perasaan ndak ada nitip apa-apalah
selain jersey Germany. Dah gitu iyunk php pulak, sukma pun terlanjur batalin”,
balas ku sambil berusaha membayangkan sebuah kejutan.
“sukma curigalah kayaknya kak utih bawak sakhi sama iyunklah
kayaknya, cobak telpon ngah kalo masuk berarti iyunk gak ikut”, seketika muncul
nya begitu.
“jangan lagi nanti kalo rupanya diangkat iyunk cepat kecewa
kita. Biarkan aja lah dulu”, jawab angah.
Ayah semangat sekali menyambut kehadiran kak Utih. Maksud ku
bukan biasanya gak senang, tapi kegembiraan ini lain dari biasanya saat dia
memjemput kak Utih. Apa lagi setelah tau kalo pesawatnya udah mendarat, dia
langsung berdiri melihat orang yang baru saja turun dari pesawat.
“kalian ndak nunggu disini?”, ajak ayah.
“adek mau ke tempat ayah?”, angah menawari ku.
“nggaklah sukma disini aja, malas berdiri-berdiri lagi atit eyutt”,
balas ku sambil memasang muka malas.
Yah lumayan juga dia lama keluarnya. Tak lama angah melihat
seorang ibuk-ibuk yang menggendong anaknya mengikuti kak utih. Mereka sama-sama
pakai jilbab panjang pula tentu menambah kecurigaan angah.
“dek dek itu siapa yang ikut kak utih tu?” sambil mencolek
lengan ku.
“mana? Kak utih aja ndak Nampak”, balas ku yang berusaha
mencarinya.
“dek itu iyunk bawak sakhi. Aaaa.. sakhiiiiii”, angah
histeris sambil berdiri.
“kan betul kata sukma”, dan aku pun mengeluarkan jurus
terampuh ku.
Sakhi keponakan ku yang pertama, yang saat itu umurnya hampir
setahun. Aku rindu sangat kepadanya. Hingga akhirnya aku tidak terasa sakit
perut lagi saking senangnya. Bahkan aku lupa kalo tadi sakit perut, haha au ah.
Yang jelas ini semua karena luwak white koffie.
Sebenarnya bukan bermaksud untuk jelek jelekin produk itu ya,
lambung orangkan berbeda-beda. Haha ini cuman buat iseng-isengan saja namanya juga pengalaman pribadi.