sorry


My name is El nino La nina. Sukma also my name, officially. but why am i always mention el nino la nina? that was name who my father decide if i was born as a boy in this world. However, it doesn't matter. People around me still call me "sukma". Long ago I thought my self become famous. I want people know me as El nino La nina. My full name that was a secret. I was afraid if "kira" was real he wrote my name in his paper of death note. If you know that anime, may be you would have same mind with me.

But, wait. why "El nino La nina"?
I let you find out what is it
because I wouldn't talk about it. So what am I will talk about?

I'm 20 right now. 02.11 WIB. Thursday, August 28th 2018. Today is the day that I'm back to this blog after all this time. I'm the way on 5th semester as an architecture student. You know, there are so much thing that I'd like to share on this blog. Especially about architecture student. I mean base on my perspective. Tired. That was a world can describe it.

"yeah, of course all college student have to be tired!", That is the words peoples always said.
"why architecture? you are just a girl. After marry and have baby you only deserve money and stay home. For house? we don't need architect. tukang also can build! Find out something who as woman can do like teacher, nurse, and bla bla ", almost mamak mamak said.

Sorry, they are right. But don't get me wrong with my descition. For anyone who to be my new family later. Pardon me, I can be normal like any woman else. wait, unnormal I thought? One day, with special person, before marry me, I will tell that i mean. Again, that was a secret that I told to people who read this. How lucky you are!

Sorry guys, maybe you don't get any point that i wont tell. wkwk as the title. Sorry. I write base on my mind who can't sleep. so I just talk shit, and au ah. I don't know. maybe later I continue. Thanks for read this secret.


Semangat Remaja Riau Menggoyang Gelanggang

Antusias remaja SMA sederajat mulai memenuhi Gelanggang Remaja Pekanbaru dalam acara Opening Party Honda Development Basket League Riau Series 2015, Jum'at (26/2). Acara ini pun dimulai dengan munculnya dancer yang berlarian dari sudut lapangan dan tiba di posisinya untuk mulai menari. Dari tarian modern tersebut menggambarkan bahwa dalam sebuah pertandingan basket terdapat pemain basketdancer atau cheerleader, serta official
Namun pembukaan oleh dancer ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Para dancer juga mempersembahkan tarian yang sedang hangat-hangatnya dan tidak asing di kalangan masyarakat kini, yaitu 'Goyang Dumang' yang seakan mengajak penonton juga ikut bergoyang bersama.
Tidak hanya sekedar bergoyang usai perform tersebut, protokol ambil alih yang datang dibonceng dengan menggunakan Honda Beat yang tentu saja menjadi sponsor Honda DBL Riau series. Protokol turut mengambil perhatian penonton dengan meneriaki supporter SMAN 1 Pekanbaru dan SMAN 10 Pekanbaru. Yang tampaknya Gelanggang tersebut umumnya diisi oleh anak SMAN 1 yang memiliki teriakan yang paling keras.
Dalam converensi pers ada dua narasumber yaitu pak Sicheng selaku pihak Honda, dan pak Herman selaku pihak Riau pos. menurut  pak Sicheng, "sejak bergulirnya Honda DBL di Riau, di Riau masuk tahun ke-8 untuk bekerja sama dengan Riau Pos". Beliau juga ikut senang dalam acara ini yang antusias anak-anak dari luar kota yang turut mengikuti acara ini.
Narasumber tersebut juga mengungkapkan bahwa beberapa hadiah juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya, untuk di Pekanbaru sponsor berusaha menyiapkan hiburan yang tersedia di luar dan di dalam gor. Serta closing yang akan ada kejutan yang lebih spesial, dan juga akan berusaha membuat tahun-tahun berikutnya menjadi semakin lebih spesial.

Sial

‘Sial’ hanya itu yang terlintas dibenakku. Bagaimana bisa aku mengulang yang terjadi? Setiap aku membahas hal itu kepada kawan ku, aku hanya berpura-pura tertawa dibalik semua kepanikkan ku. Hingga malam ini aku juga masih memikirkannya.
Kemarin…
Hari itu adalah hari Jumat, tepatnya tanggal 28 november 2014. Dalam satu hari tersebut aku melaksanakan ulangan di 2 pelajaran, yaitu teori penjaskes dan Biologi. Memang aku tidak sedikit pun menyiapkan bekal untuk ulangan tersebut. Aku yakin bisa menyontek saat itu, ntah apa yang tersirat di benakku sehingga aku malas sekali untuk belajar. Ulangan penjas ku syukurnya berjalan dengan mulus namun ketika ulangan biologi, aku tak seberuntung saat ulangan sebelumnya.
Kulihat kertas yang berisi system predaran darah membuat ku tak nafsu lagi. Sungguh ku tak mengerti dengan apa yang ku baca. Lebih tepatnya konsentrasi ku pudar disetiap ibuk afriyeti-guru biologi menerangkan predaran darah. Soalnya ada 20 dan kebetulan objektif, hanya saja berpaket itu yang mempersulitku. Kemudian tempat duduk ku juga sudah tidak strategis, sejak negara api menyerang aku duduk nomor 3 dari depan sederetan guru. Dalam 20 soal tersebut  hanya 5 lah yang benar-benar bisa ku kerjakan dengan otakku, karena aku ingat beberapa adalah pelajaran SMP. aku pun memulai modus ku untuk membuka HP untuk mencari jawaban.
“itu apa tu dang?”, tegur ibuk.
“HP buk”, jawab ku dengan sangat jujur.
“untuk apa hp tu?”, Tanya ibuk kembali.
“tadi saya sms ayah, bilangin pulangnya hari ni cepat buk”, kebetulan aku baru saja memberi pesan kepada ayah ku.
Awalnya aku panik, belum pernah sebelumnya modus ku, ketahuan seperti ini. Ah sudahlah, ini pelajaran lain kali harus lebih hati-hati. Pikirku.
Esoknya pada hari sabtu, 29 November 2014
Aku telah mempersiapkan diri untuk ulangan Fisika nanti. Aku mengerjakan pr dengan sendiri dengan percaya diri. meski ada 1 soal yang aku dapati hasilnya dari kawan ku, dan 1 soal lagi dari hasil diskusi kecil  antara aku dan makpir di BBM. Kebetulan sekali aku datang sangat terlambat, tepatnya disaat buk yelna-guru fisika sedang membagikan kertas soal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Makpir langsung memberitahukanku bahwa ternyata pr ku ada sedikit kesalahan aku pun tak sempat memperbaikinya karena terlambat.
Aku segera mengumpulkan pr, dan kembali ke tempat duduk yang tidak strategis itu. ah sial! Ini soal pr tadi! Hati ku berbicara. Nomor 1 terlaksana dengan sukses, namun aku langsung terkejat kejut melihat soal nomor 2. Itulah soal yang aku dapati jawabannya dari teman saat mengerjakan pr. Sedikit pun aku tidak mengingat cara penyelesaiannya. Perlahan tapi pasti aku segera menarik hp dari bawah laci untuk melihat jawabannya, karena soal nya sangat persis itu! buk yelna menghampiri bangku ku.
“simpan bukunya”, ujarnya
Aku sih cuek awalnya.
“apa itu? buku simpan dalam tas”, beliau menghadapkan muka ke arah ku.
“bukan buk, hp”, aku pun meletakkannya di dalam tas.
Setelah itu aku sudah tidak konsen lagi mengerjakannya, apalagi setelah melihat nomor 4 yang ternyata itulah soal yang aku salah cara penyelesaiannya. Dan aku tidak tahu aku salah dimana. Akhirnya aku hanya mengarang jawaban sesuka ku. Hingga akhirnya aku keluar kelas lebih dahulu kira-kira orang ke-5 yang siap. Mereka pun membincangkan soal tadi, dan sudah pasti aku salah 2. Akhirnya opi dan uul keluar dari kelas, dan kembali membahas hal yang sama. Ternyata nomor 5 aku salah, karena gak pakai tanda min (-) di angkanya, padahal dalam penyelesaiannya diketahui aku pakai (-) kenapa jawabannya gak ku pakai. Aduh bodohnya aku. Jelas lah aku salah berapa. Aku setres membahana, fisika aku sudah pasti gak oke nilai uh terakhirnya. Padahal aku sudah belajar keras, aku mengerjakan pr sendiri yang padahal biasanya bikin di sekolah, tapi kenapaaaaaa?
Kejadian terakhir, yaitu dipelajaran pkn.
Aku sudah tau soalnya, setelah menanyakan kebeberapa kelas yang sudah ulangan. Jawabannya pasti panjang membuatku malas menghapalkannya, apalagi aku baru tau dalam waktu 15 menit  sebelum ulangan, mana mungkin aku bisa menghapal secepat itu. jadi aku menuliskannya di sebuah kertas kecil.
Yah pasti udah ketebaklah, ketahuan? Jawabannya iya. Kurang kenyang apaan cobak. Sama buk masta lagi ketahuannya, untung nya ibuk itu hanya tidak menerima jawaban nomor 3. Tapi aku tetap menulisnya secara lengkap, siapa tahu ibuk itu khilaf.
Hari itu setiap kawan-kawan menjumpai ku mereka mengatakan “sabar cuk”, namun aku hanya bisa membawa nya tertawa. Dan ‘Sial’ hanya itu yang terlintas dibenakku. Bagaimana bisa aku mengulang yang terjadi? Setiap aku membahas hal itu kepada kawan ku, aku hanya berpura-pura tertawa dibalik semua kepanikkan ku. Hingga malam ini aku juga masih memikirkannya.
Beginilah kisah ulangan-ulangan terakhir ku di semester 1 kelas XI dan berharap semoga hasilnya tak seburuk itu, aku jadi banyak pelajaran setelah kejadian ini. Sepertinya kecerdasan ku dalam melakukan modus terhambat oleh kekuatan yang maha dahsyat. Oh ya kabar yang bikin maha dahsyat lagi adalah ujian semester kali ini aku duduk di depan pengawas. Aku pisah ruang dengan makpir, opi, uul dan tata. Bagaimana aku menjalani hari-hari ujian nanti?
Dan kesimpulan dari kisah tadi adalah, itu adalah latihan kecerdasan bermodus ketika ujian semester. Namun karena trauma akan masa lalu, aku jadi tidak berani macam-macam selama ujian semester. Bisa pun aku megang hp aku akan bingung ingin menghubungi siapa, intinya kalo mau dapat nilai bagus ya tetep harus belajar. Ah udahan dulu, btw selama ujian aku gak ada belajar sih.

Nasi Goreng Pak Marno

Suatu pagi di hari kamis kelas XI IPA 1 sedang belajar seni budaya. Hari kamis adalah hari paling santai dikelas ku yang tercinta ini, karena setelah jam pertama kami belajar prakarya, bahasa Indonesia, fisika dan teori penjas. Materi kami dipelajaran seni budaya saat ini adalah bertemakan lagu dangdut, saling berpasangan maju kedepan menyanyikan lagu dari Rhoma Irama feat Rita Sugiarto yang berjudul “malam terakhir”. Kenapa harus malam terakhir? Aku pun tak tau. Sebenarnya aku bukan mau certain ini sih.
Hingga bel pertukaran pelajaran pun berganti aku dan makpir segera cabut keluar kelas ketika pak Marno – guru prakarya berjalan ke arah kelas. Rasa lapar serta aroma masakan bude kantin  mengundang kami untuk keluar kelas. Akhirnya kami tibalah dikantin tengah, seketika itu pula lah pak Marno sudah memasuki kelas kami. Aku memutuskan untuk membeli nasi goreng, sedangkan makpir pergi ke kantin pertama untuk membeli paha ayam. Paha ayam adalah jajanan kesukaan makpir, yah bisa dikatakan setiap pagi nya dia sering tekenang paha bude eh paha ayam maksudnya. Paha ayam itu bukanlah sejenis ayam goreng namun roti yang dibalut mises cokelat yang berbentuk seperti paha ayam makanya dikasi nama paha ayam. Mungkin sih.
Oh ya kembali lagi ke kantin bude tengah, karena rasa lapar yang teramat dalam aku akhirnya membeli nasi goreng yang dibungkus serta es teh. Karena dikelas pak Marno sudah masuk mengajar jadi aku merasa tidak sopan jika masuk ke dalam kelas sambil menenteng jajanan. Akhirnya karena posisi kelas kami jendelanya menghadap kantin, akhirnya aku meletakkan nasi goreng tersebut di jendela tepat didekat bangku ku. Tak lama kami bertemu dengan Bela, kawan bermain kami namun tidak sekelas dengan kami. Bela mengambil makanan yang ada di jendela.
“eh beeell itu nasi goreng akuu”, teriak ku keras saat menjumpai bela.
“mau nasi goreng”, candanya sambil mengangkat nasi goreng tersebut ke atas Karena dia yakin bahwa aku tidak akan sampai mencapainya.
Akhirnya aku memberikan uang 5000 kepada Bela untuk jajan, maklum saja dia sudah sering membayarkan ku segala macam, jadi aku merasa tidak keberatan akan hal itu dan Bela memberikan nasi goreng tersebut. Aku pun kembali meletakkan nasi goreng tersebut di jendela kelas. Sesampainya di kelas, pak Marno sedang duduk menatapi laptopnya dan sambil sedikit menjelaskan. Mata ku langsung terarah ke satu sisi, yaitu jendela. Seketika aku membuka tirai di jendela tersebut aku tidak melihat nasi goreng yang telah kuletakkan. Hati ku bertanya-tanya kemanakah nasi goreng ku?
Tak satu pun orang yang di sekitar bangku ku tahu kemana kah  nasi gorang ku? Aku mencari-cari kesana-kemari namun aku tak menemukannya di kelas. Aku pun bergegas kembali ke kantin. Ku jumpai Amek yang tengah makan di kantin 3.
“mek kau nampak nasi goreng aku ndak?”, Tanya ku.
“tadi ada disitu cuk, tapi ada yang lewat sih barusan ndak tau aku lagi do”, jawab amek sambil menyuap nasinya.
“ndeh, gak sampai beberapa detik mek. Aku letakkan tu sampai aku dikelas aku ambil ndak ada lagi do. Kan ndak lucu”, jawab ku kesal.
Kemudian aku berjumpa dengan Bela yang dari kantin tengah.
“bel, balikinlah nasi goreng aku”
“ha? Mana ada aku ambil lagi”
“eh serius ni haa, jadi siapa yang ngambil?”
“ilang lagi dia? Ndak tau aku do”
Kemudian aku kembali ke kelas dengan wajah yang amat kusut. Aku lapar sekali, aku sibuk sendiri di kelas mencari nasi goreng. Hingga akhirnya pak Marno melihat dan menanyakanku akan tugas.
“kamu panik kenapa? Udah siap tugasnya?” Tanya pak Marno.
“belum pak saya mau pengakuan dosa sama bapak, sebenarnya tadi saya lapar tu pas bapak masuk kelas, pergi saya jajan ke kantin beli nasi goreng. Tu karena takut bawaknya ke dalam kelas, saya tarok dulu dekat jendela saya duduk, tu pas saya kembali ke kelas dan membuka gorden gak ada nasi gorengnya do pak. Mungkin ini lah akibatnya karena saya main-main di pelajaran bapak. Ini makanya saya cari kemana-mana gak jumpa”, jawab ku.
Kawan di sekitar ku tertawa terbahak-bahak, aku tidak mengerti mengapa mereka harus tertawa. Bahkan pak Marno sendiri juga tidak memarahi ku bahkan ikut tertawa, mendengar penjelasan ku. Perlahan tapi pasti aku sedikit mengiklaskan kepergian nasi goreng itu. mungkin bukan rezeki ku untuk saat itu. tak lama Topik mengeluarkan sebungkus nasi goreng dari laci dibelakangku.
Sungguh aku terkejat-kejut melihatnya. Rupanya itu adalah nasi goreng milikku, sungguh ku tak menyangka mereka semua merencanakan hal ini dan membuat ku sepanik ini. Bahkan makpir pun tahu bahwa topik dan warga sekitarnya menyembunyikannya. Ah aku merasa malu setelah jujur mati-matian dengan pak Marno, pantas saja mereka tertawa. And finally aku bisa kembali mengobati rasa laparku, walaupun mereka terus saja menceritakan ekspresi  bodohku.


Gara-gara Kopi Putih Luwak

Malam ini mata ku tak ingin tidur. Tak ada sedikit pun kantuk yang menghampiriku. Aku sedikit resah malam itu. Kebetulan aku dan Angah – kakak ku yang ke 2 tidur dikamar bawah agar tidak sulit untuk bangun sahur. Aku hanya memainkan ponsel ku, sambil mendengarkan lagu. Tak lama aku makin merasa ngantuk. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dan pergi ke dapur. Yang kulakukan hanya melamun diam aku bingung ingin berbuat apa. Disaat yang bersamaan baterai ponsel ku melemah. Dan hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 02.49.
Aku segera memasak air untuk sahur. Seperti biasa ayah minum kopi, mama minum teh, angah cappuccino dan aku susu Hilo – biar tinggi. Hingga airnya aku segera mengambil teh didalam lemari. Terlihatlah ada 1 kotak yang berisi banyak sachet. Sachet itu ternyata luwak white koffie. Minuman yang sering menjadi sponsor di beberapa acara televisi.
Aku sudah lama ingin mencoba untuk meminumnya. Menurut iklannya rasanya enak dan menggoda. Akhirnya aku tidak jadi membuat susu. Aku ambil sachet itu dan memasukkannya ke dalam gelas. Setelah itu aku kembali mempersiapkan makanan untuk sahur.
Setelah semuanya siap, aku segera membangunkan angah, mama, dan ayah. Ketika sahur aku sangat senang memamerkan minuman ku yang lain dari biasanya. Mama sengaja membelinya dengan tujuan untuk mencoba rasanya saja. “Nyobak aja siapa tau enak” begitu katanya. Setelah ku perhatikan gelas kopi ku, baru ku sadari bahwa yang putih itu hanya kemasan dan bubuknya saja. Setelah jadi warnanya kecokelatan.
Aku merasa tertipu saat itu, kopi yang amat membuat ku penasaran tidak sesuai dengan yang ku bayangkan. Logikanya sih mana ada taik yang warnanya putih? Taik luwak pulak. Taik cicak baru putih jadi kalo seandainya itu kopi berwarna putih berarti itu adalah Cicak white Koffie kopi olahan dari taik cicak. Gitu. eh btw taik cicak warnanya putih? Ah au ah.
Hingga pagi aku tidak bisa tidur, aku bersantai santai sambil menonton tv di pagi hari. Aku lupa saat itu aku nonton apa.
“sukma ikut jemput kak utih gak? Ansur-ansurlah bersihkan rumah. Kamar mandi sukma kan janji mau bersihkan?”, sebut angah sambil memegang sapu.
“iya ngah”, balas ku singkat padat dan gak jelas dengan menunjukkan muka termalas.
Aku segera menggosok kamar mandi hingga bersih. Seusainya badan serasa pegal. Lelah anak gadis pagi-pagi gosok kamar mandi. Kebetulan aku belum mandi yaudah gak sekalian mandi. Angah mau mandi duluan. Sebenarnya ini bagian gak penting sih.
Langsung deh otw bandara. Baterai ponsel ku lowbat, karena berbagai alasan. Jelasnya susah pas charging nya, kini dia tak seperti biasa dia berubah. Harus ada cara khusus biar dia mau terisi baterai. Semalaman charging tapi gak penuh-penuh itu sakitnya disini *nunjukin hati*. Selama diperjalanan aku ketiduran sambil megang ponsel dan powerbank. Tak lama aku tersadar sudah sampai ditujuan. Ketika kembali melihat ponsel ternyata baterainya terisi 12%.
Perut ku terasa tidak enak. Bayangin kentut saja gak bisa. Hari ini memang tak diinginkan. Dan baru kusadari ini mungkin akibat dari kopi putih luwak tadi. Perut aku sensitive banget kayak pantat bayi kalo salah masuk sikit ya berulah dianya. Aku udah gak nafsu ngapa-ngapain lagi. Diruang tunggu aku hanya bisa bbm makpir sekaligus curhat apa yang kuderita kali ini. Ah sial sekali rasanya. 
Kak utih – kakak ku yang ke tiga lama banget sampainya, pikirku sambil memandang roti boy yang dimakan oleh anak cina yang terus kesana kemari tak ada hentinya.
“iyunk bilang kak utih ada kejutan buat kita berdua dek, kira-kira apa ya? Angah kayaknya kalo nggak jersey Germany, komik conan, buku alex ferguson, atau apa ya?”, tiba-tiba angah berbicara dan memberhentikan lamunanku.
“kalo sukma apa ya? Sukma perasaan ndak ada nitip apa-apalah selain jersey Germany. Dah gitu iyunk php pulak, sukma pun terlanjur batalin”, balas ku sambil berusaha membayangkan sebuah kejutan.
“sukma curigalah kayaknya kak utih bawak sakhi sama iyunklah kayaknya, cobak telpon ngah kalo masuk berarti iyunk gak ikut”, seketika muncul nya begitu.
“jangan lagi nanti kalo rupanya diangkat iyunk cepat kecewa kita. Biarkan aja lah dulu”, jawab angah.
Ayah semangat sekali menyambut kehadiran kak Utih. Maksud ku bukan biasanya gak senang, tapi kegembiraan ini lain dari biasanya saat dia memjemput kak Utih. Apa lagi setelah tau kalo pesawatnya udah mendarat, dia langsung berdiri melihat orang yang baru saja turun dari pesawat.
“kalian ndak nunggu disini?”, ajak ayah.
“adek mau ke tempat ayah?”, angah menawari ku.
“nggaklah sukma disini aja, malas berdiri-berdiri lagi atit eyutt”, balas ku sambil memasang muka malas.
Yah lumayan juga dia lama keluarnya. Tak lama angah melihat seorang ibuk-ibuk yang menggendong anaknya mengikuti kak utih. Mereka sama-sama pakai jilbab panjang pula tentu menambah kecurigaan angah.
“dek dek itu siapa yang ikut kak utih tu?” sambil mencolek lengan ku.
“mana? Kak utih aja ndak Nampak”, balas ku yang berusaha mencarinya.
“dek itu iyunk bawak sakhi. Aaaa.. sakhiiiiii”, angah histeris sambil berdiri.
“kan betul kata sukma”, dan aku pun mengeluarkan jurus terampuh ku.
Sakhi keponakan ku yang pertama, yang saat itu umurnya hampir setahun. Aku rindu sangat kepadanya. Hingga akhirnya aku tidak terasa sakit perut lagi saking senangnya. Bahkan aku lupa kalo tadi sakit perut, haha au ah. Yang jelas ini semua karena luwak white koffie.

Sebenarnya bukan bermaksud untuk jelek jelekin produk itu ya, lambung orangkan berbeda-beda. Haha ini cuman buat iseng-isengan saja namanya juga pengalaman pribadi.

Rahma’s Story-Gak apa, ini hari terakhir


Gak apa, ini hari terakhir
Pekanbaru, kamis 5 juni 2014
Aku melangkah menuju kelas setelah mendengar bel sudah berbunyi. Tak cukup khawatir untuk terburu karena pelajaran terakhir adalah pelajaran bahasa Indonesia. Bukan factor aku adalah orang Indonesia jadi gampang saja mempelajarinya. Namun menurut ku lebih baik tidak masuk kelas jika dikelas tidak dihargai. Aku bersama teman-teman ku yang baru saja ke kantin akhirnya sampai dikelas tercinta. Syukurnya buk Har belum memasuki kelas. Dia memang selalu terlambat masuk kelas. Kami pun melanjutkan hal yang digosipkan dikantin tadi dikelas. Tiba-tiba tanpa diinginkan buk Har memasuki kelas. Kelas yang ribut tadi berubah menjadi senyap dan seluruh anak kelas kembali ke tempat duduknya masing-masing. Terkecuali aku kebingungan. Yang tempat duduk ku sudah diduduki oleh seorang lelaki sekaligus kawan baikku yang bernama Kus. Aku sudah beberapa kali mengusirnya agar pergi dari tempat dudukku. Rasanya kesal sekali. Aku sangat cinta dengan posisi sekaligus bangku ku yang sangat strategis itu.
“usir cantik hus hus sanaa!” usir kus terhadapku. Dia sudah terhipnotis akan usir usiran syahrini
“udah numpang ngusir lagi”, balas ku kesal
“kau duduk aja dikursi aku”, sambil menunjuk kursinya

Saat kulihat kursinya sudah di duduki oleh kawan kami yang akrab dipanggil nyet. Seketika buk Har menegurku.

“kamu dimana kursinya duduk tempat masing masing”

Dengan sedikit kurang iklas akhirnya aku duduk di bangku enyet yang kebetulan dekat dengan guru.

“oke, dah dekat ujian ni ada lagi materi yang belum jelas”, ucap buk Har sambil duduk dengan suara pelan malasnya yang selalu mengundang kantuk.

Kebetulan Feb duduk disebelah ku dan di depan feb ada sun. Sun mengajak Feb berbicara dan kedengarannya sepertinya menarik. Kebetulan bangku Nyet yang sedang ku duduki jika kepala ku lurus maka akan tertutup oleh orang didepanku yang bernama Intan. Tapi jika kepala ku dimerengkan kekanan maka muka aku akan nampak jelas oleh buk har. Jadi aku memerengkan kepala kekanan agar lebih memperhatikannya bicara. Sun berbicara sambil memerengkan badan ke arah feb yang secara tak langsung juga menghadap ku.

“rahma becerita kamu sama laki-laki ni” tegur buk har

Secara reflek aku terkejut dan tentu aku membela diri karena faktanya aku tidak berbicara pada sun.

“gak ada saya bicara sama dia buk, saya diam diam aja”, balas ku sambil sedikit memberontak
“alah, dari kemarin lagi kamu meribut aja kerjanya”, jawab ibu sambil mengeluarkan tampang menyebalkannya.

Oke kali ini aku cukup fokus kepala lurus menghadap depan meski tidak nampak.

“kayaknya ibuk ni gerogi kalo dia bicara aku lihat haha” sambil berbisik dengan orang sebelah.

Aku diam saja dan lurus menghadap kedepan. Terkadang sambil mencoret-coret halaman belakang buku tulis yang ternyata itu punya enyet. Tak lama Feb – yang duduk disebelahku membentangkan tangannya dan memberi isyarat kepadaku. Namun aku menghiraukannya.

“Rahma.. bicara jugak kamu lagi sama laki-laki sebelah kamu sekarang” tegur buk Har untuk ke tiga kalinya.
“gak ada saya bicara buk”, sambil mengangkat kepalaku yang dari tadi berusaha tunduk dan anggap tak ada yang mengajakku bicara.

Buk Har seperti tidak mempercayai ku. Oke jika begini cara bermainnya aku akan betul betul seperti patung. Kus – duduk dibelakang Feb terus menggodaku dan mengatakan

“ma, aku meribut ndak kenak marah do. Tengoklah aku haa. Is cuek”

Syukurnya aku tak tergoda oleh itu. Kus memang tampaknya mencari masalah. Tak lama aku merasa bosan jika hanya diam begini. Hanya kaki ku yang bisa banyak bergerak. Maklum saja aku termasuk orang yang tidak bisa diam saja. Apalagi mendengarkan sesuatu yang membosankan.

“tolong masukkan hp aku dalam buku ni” isyaratku kepada kus, sambil menunjukkan buku.

“kamu jugak lagi rahma, kali ni sama kus pulak”, panggil buk Har.

Dan kali ini aku tidak akan menjawab. Percuma nama aku sudah jelek dimata buk Har. Kemudian kus memberikan buku yang berisi hp ku. Kali ini aku akan mendengarkan musik. Jauh lebih indah jika fokus terhadap benda ini. Tanpa ada yang mengganggu.

Sampai akhirnya jam berakhir. Teman-temanku menghampiriku sambil berkata.

“sabar ma, gak apa ini hari terakhir belajar sama ibuk ni” 

One Direction - One Thing (Acoustic Video)