Suatu pagi
di hari kamis kelas XI IPA 1 sedang belajar seni budaya. Hari kamis adalah hari
paling santai dikelas ku yang tercinta ini, karena setelah jam pertama kami
belajar prakarya, bahasa Indonesia, fisika dan teori penjas. Materi kami
dipelajaran seni budaya saat ini adalah bertemakan lagu dangdut, saling
berpasangan maju kedepan menyanyikan lagu dari Rhoma Irama feat Rita Sugiarto
yang berjudul “malam terakhir”. Kenapa harus malam terakhir? Aku pun tak tau.
Sebenarnya aku bukan mau certain ini sih.
Hingga bel
pertukaran pelajaran pun berganti aku dan makpir segera cabut keluar kelas
ketika pak Marno – guru prakarya berjalan ke arah kelas. Rasa lapar serta aroma
masakan bude kantin mengundang kami
untuk keluar kelas. Akhirnya kami tibalah dikantin tengah, seketika itu pula
lah pak Marno sudah memasuki kelas kami. Aku memutuskan untuk membeli nasi
goreng, sedangkan makpir pergi ke kantin pertama untuk membeli paha ayam. Paha
ayam adalah jajanan kesukaan makpir, yah bisa dikatakan setiap pagi nya dia
sering tekenang paha bude eh paha ayam maksudnya. Paha ayam itu bukanlah
sejenis ayam goreng namun roti yang dibalut mises cokelat yang berbentuk
seperti paha ayam makanya dikasi nama paha ayam. Mungkin sih.
Oh ya
kembali lagi ke kantin bude tengah, karena rasa lapar yang teramat dalam aku
akhirnya membeli nasi goreng yang dibungkus serta es teh. Karena dikelas pak
Marno sudah masuk mengajar jadi aku merasa tidak sopan jika masuk ke dalam
kelas sambil menenteng jajanan. Akhirnya karena posisi kelas kami jendelanya
menghadap kantin, akhirnya aku meletakkan nasi goreng tersebut di jendela tepat
didekat bangku ku. Tak lama kami bertemu dengan Bela, kawan bermain kami namun
tidak sekelas dengan kami. Bela mengambil makanan yang ada di jendela.
“eh beeell
itu nasi goreng akuu”, teriak ku keras saat menjumpai bela.
“mau nasi
goreng”, candanya sambil mengangkat nasi goreng tersebut ke atas Karena dia
yakin bahwa aku tidak akan sampai mencapainya.
Akhirnya
aku memberikan uang 5000 kepada Bela untuk jajan, maklum saja dia sudah sering
membayarkan ku segala macam, jadi aku merasa tidak keberatan akan hal itu dan
Bela memberikan nasi goreng tersebut. Aku pun kembali meletakkan nasi goreng
tersebut di jendela kelas. Sesampainya di kelas, pak Marno sedang duduk
menatapi laptopnya dan sambil sedikit menjelaskan. Mata ku langsung terarah ke
satu sisi, yaitu jendela. Seketika aku membuka tirai di jendela tersebut aku
tidak melihat nasi goreng yang telah kuletakkan. Hati ku bertanya-tanya
kemanakah nasi goreng ku?
Tak satu
pun orang yang di sekitar bangku ku tahu kemana kah nasi gorang ku? Aku mencari-cari
kesana-kemari namun aku tak menemukannya di kelas. Aku pun bergegas kembali ke
kantin. Ku jumpai Amek yang tengah makan di kantin 3.
“mek kau
nampak nasi goreng aku ndak?”, Tanya ku.
“tadi ada
disitu cuk, tapi ada yang lewat sih barusan ndak tau aku lagi do”, jawab amek
sambil menyuap nasinya.
“ndeh, gak
sampai beberapa detik mek. Aku letakkan tu sampai aku dikelas aku ambil ndak
ada lagi do. Kan ndak lucu”, jawab ku kesal.
Kemudian
aku berjumpa dengan Bela yang dari kantin tengah.
“bel,
balikinlah nasi goreng aku”
“ha? Mana
ada aku ambil lagi”
“eh serius
ni haa, jadi siapa yang ngambil?”
“ilang lagi
dia? Ndak tau aku do”
Kemudian
aku kembali ke kelas dengan wajah yang amat kusut. Aku lapar sekali, aku sibuk
sendiri di kelas mencari nasi goreng. Hingga akhirnya pak Marno melihat dan
menanyakanku akan tugas.
“kamu panik
kenapa? Udah siap tugasnya?” Tanya pak Marno.
“belum pak
saya mau pengakuan dosa sama bapak, sebenarnya tadi saya lapar tu pas bapak
masuk kelas, pergi saya jajan ke kantin beli nasi goreng. Tu karena takut
bawaknya ke dalam kelas, saya tarok dulu dekat jendela saya duduk, tu pas saya
kembali ke kelas dan membuka gorden gak ada nasi gorengnya do pak. Mungkin ini
lah akibatnya karena saya main-main di pelajaran bapak. Ini makanya saya cari
kemana-mana gak jumpa”, jawab ku.
Kawan di
sekitar ku tertawa terbahak-bahak, aku tidak mengerti mengapa mereka harus
tertawa. Bahkan pak Marno sendiri juga tidak memarahi ku bahkan ikut tertawa,
mendengar penjelasan ku. Perlahan tapi pasti aku sedikit mengiklaskan kepergian
nasi goreng itu. mungkin bukan rezeki ku untuk saat itu. tak lama Topik
mengeluarkan sebungkus nasi goreng dari laci dibelakangku.
Sungguh aku
terkejat-kejut melihatnya. Rupanya itu adalah nasi goreng milikku, sungguh ku
tak menyangka mereka semua merencanakan hal ini dan membuat ku sepanik ini.
Bahkan makpir pun tahu bahwa topik dan warga sekitarnya menyembunyikannya. Ah
aku merasa malu setelah jujur mati-matian dengan pak Marno, pantas saja mereka
tertawa. And finally aku bisa kembali mengobati rasa laparku, walaupun mereka
terus saja menceritakan ekspresi bodohku.
0 komentar:
Posting Komentar