‘Sial’ hanya
itu yang terlintas dibenakku. Bagaimana bisa aku mengulang yang terjadi? Setiap
aku membahas hal itu kepada kawan ku, aku hanya berpura-pura tertawa dibalik
semua kepanikkan ku. Hingga malam ini aku juga masih memikirkannya.
Kemarin…
Hari itu
adalah hari Jumat, tepatnya tanggal 28 november 2014. Dalam satu hari tersebut
aku melaksanakan ulangan di 2 pelajaran, yaitu teori penjaskes dan Biologi.
Memang aku tidak sedikit pun menyiapkan bekal untuk ulangan tersebut. Aku yakin
bisa menyontek saat itu, ntah apa yang tersirat di benakku sehingga aku malas
sekali untuk belajar. Ulangan penjas ku syukurnya berjalan dengan mulus namun
ketika ulangan biologi, aku tak seberuntung saat ulangan sebelumnya.
Kulihat
kertas yang berisi system predaran darah membuat ku tak nafsu lagi. Sungguh ku
tak mengerti dengan apa yang ku baca. Lebih tepatnya konsentrasi ku pudar
disetiap ibuk afriyeti-guru biologi menerangkan predaran darah. Soalnya ada 20
dan kebetulan objektif, hanya saja berpaket itu yang mempersulitku. Kemudian
tempat duduk ku juga sudah tidak strategis, sejak negara api menyerang aku
duduk nomor 3 dari depan sederetan guru. Dalam 20 soal tersebut hanya 5 lah yang benar-benar bisa ku kerjakan
dengan otakku, karena aku ingat beberapa adalah pelajaran SMP. aku pun memulai
modus ku untuk membuka HP untuk mencari jawaban.
“itu apa tu
dang?”, tegur ibuk.
“HP buk”,
jawab ku dengan sangat jujur.
“untuk apa hp
tu?”, Tanya ibuk kembali.
“tadi saya
sms ayah, bilangin pulangnya hari ni cepat buk”, kebetulan aku baru saja
memberi pesan kepada ayah ku.
Awalnya aku
panik, belum pernah sebelumnya modus ku, ketahuan seperti ini. Ah sudahlah, ini
pelajaran lain kali harus lebih hati-hati. Pikirku.
Esoknya pada
hari sabtu, 29 November 2014
Aku telah
mempersiapkan diri untuk ulangan Fisika nanti. Aku mengerjakan pr dengan
sendiri dengan percaya diri. meski ada 1 soal yang aku dapati hasilnya dari
kawan ku, dan 1 soal lagi dari hasil diskusi kecil antara aku dan makpir di BBM. Kebetulan sekali
aku datang sangat terlambat, tepatnya disaat buk yelna-guru fisika sedang
membagikan kertas soal. Aku tidak bisa berbuat banyak. Makpir langsung
memberitahukanku bahwa ternyata pr ku ada sedikit kesalahan aku pun tak sempat
memperbaikinya karena terlambat.
Aku segera
mengumpulkan pr, dan kembali ke tempat duduk yang tidak strategis itu. ah sial!
Ini soal pr tadi! Hati ku berbicara. Nomor 1 terlaksana dengan sukses, namun
aku langsung terkejat kejut melihat soal nomor 2. Itulah soal yang aku dapati
jawabannya dari teman saat mengerjakan pr. Sedikit pun aku tidak mengingat cara
penyelesaiannya. Perlahan tapi pasti aku segera menarik hp dari bawah laci
untuk melihat jawabannya, karena soal nya sangat persis itu! buk yelna
menghampiri bangku ku.
“simpan
bukunya”, ujarnya
Aku sih cuek
awalnya.
“apa itu?
buku simpan dalam tas”, beliau menghadapkan muka ke arah ku.
“bukan buk,
hp”, aku pun meletakkannya di dalam tas.
Setelah itu
aku sudah tidak konsen lagi mengerjakannya, apalagi setelah melihat nomor 4
yang ternyata itulah soal yang aku salah cara penyelesaiannya. Dan aku tidak
tahu aku salah dimana. Akhirnya aku hanya mengarang jawaban sesuka ku. Hingga
akhirnya aku keluar kelas lebih dahulu kira-kira orang ke-5 yang siap. Mereka
pun membincangkan soal tadi, dan sudah pasti aku salah 2. Akhirnya opi dan uul
keluar dari kelas, dan kembali membahas hal yang sama. Ternyata nomor 5 aku
salah, karena gak pakai tanda min (-) di angkanya, padahal dalam
penyelesaiannya diketahui aku pakai (-) kenapa jawabannya gak ku pakai. Aduh
bodohnya aku. Jelas lah aku salah berapa. Aku setres membahana, fisika aku
sudah pasti gak oke nilai uh terakhirnya. Padahal aku sudah belajar keras, aku
mengerjakan pr sendiri yang padahal biasanya bikin di sekolah, tapi
kenapaaaaaa?
Kejadian
terakhir, yaitu dipelajaran pkn.
Aku sudah tau
soalnya, setelah menanyakan kebeberapa kelas yang sudah ulangan. Jawabannya
pasti panjang membuatku malas menghapalkannya, apalagi aku baru tau dalam waktu
15 menit sebelum ulangan, mana mungkin
aku bisa menghapal secepat itu. jadi aku menuliskannya di sebuah kertas kecil.
Yah pasti
udah ketebaklah, ketahuan? Jawabannya iya. Kurang kenyang apaan cobak. Sama buk
masta lagi ketahuannya, untung nya ibuk itu hanya tidak menerima jawaban nomor
3. Tapi aku tetap menulisnya secara lengkap, siapa tahu ibuk itu khilaf.
Hari itu
setiap kawan-kawan menjumpai ku mereka mengatakan “sabar cuk”, namun aku hanya
bisa membawa nya tertawa. Dan ‘Sial’ hanya itu yang terlintas dibenakku.
Bagaimana bisa aku mengulang yang terjadi? Setiap aku membahas hal itu kepada
kawan ku, aku hanya berpura-pura tertawa dibalik semua kepanikkan ku. Hingga
malam ini aku juga masih memikirkannya.
Beginilah
kisah ulangan-ulangan terakhir ku di semester 1 kelas XI dan berharap semoga
hasilnya tak seburuk itu, aku jadi banyak pelajaran setelah kejadian ini.
Sepertinya kecerdasan ku dalam melakukan modus terhambat oleh kekuatan yang
maha dahsyat. Oh ya kabar yang bikin maha dahsyat lagi adalah ujian semester
kali ini aku duduk di depan pengawas. Aku pisah ruang dengan makpir, opi, uul
dan tata. Bagaimana aku menjalani hari-hari ujian nanti?
Dan
kesimpulan dari kisah tadi adalah, itu adalah latihan kecerdasan bermodus
ketika ujian semester. Namun karena trauma akan masa lalu, aku jadi tidak
berani macam-macam selama ujian semester. Bisa pun aku megang hp aku akan
bingung ingin menghubungi siapa, intinya kalo mau dapat nilai bagus ya tetep
harus belajar. Ah udahan dulu, btw selama ujian aku gak ada belajar sih.
0 komentar:
Posting Komentar